Mikulnews.com – Penemuan gua bawah laut di Pulau Nusa Penida, Bali, membuka babak baru dalam kajian arkeologi prasejarah Indonesia. Situs bernama Song Toyapakeh itu teridentifikasi sebagai lokasi yang menyimpan bukti keberadaan manusia purba pada akhir periode Pleistosen. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi hunian manusia sebelum akhirnya terendam akibat kenaikan muka air laut pascazaman es.
Studi arkeologi mengenai gua bawah laut tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ScienceDirect pada 2023 dengan judul New evidence on prehistoric settlement in Song Toyapakeh, an underwater cave in Nusa Penida, Bali. Publikasi itu memaparkan hasil penelitian lapangan dan analisis laboratorium yang dilakukan secara komprehensif oleh tim peneliti.
Secara geologis, Gua Song Toyapakeh terbentuk dari batuan kapur. Struktur penyusunnya terdiri atas batu gamping terumbu, lapisan marl, hingga rekristalisasi batuan yang mengandung sisa fosil dari periode Miosen akhir sampai Pliosen awal. Formasi tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini telah mengalami proses geologi panjang jutaan tahun sebelum akhirnya dihuni manusia.
Penelitian lapangan dilakukan dengan dua metode utama, yakni penyelaman dan pengambilan sampel. Tim peneliti menggunakan peralatan scuba untuk menelusuri struktur gua serta mendokumentasikan kondisi morfologinya. Selain itu, mereka mengumpulkan sampel fosil fauna yang ditemukan di berbagai sudut ruang gua.
Pada kedalaman sekitar 16 meter di bawah permukaan laut, peneliti menemukan sejumlah fosil vertebrata. Fosil tersebut berasal dari hewan darat seperti rusa, gajah, dan kura-kura. Distribusi fosil yang tersebar di dalam gua menjadi indikasi kuat bahwa lokasi ini dahulu berada di atas permukaan daratan dan memungkinkan aktivitas manusia.
Tidak hanya itu, penelitian sebelumnya pada 2021 juga menemukan artefak tajaman yang diduga berbentuk mata tombak atau ujung panah. Artefak tersebut menjadi bukti langsung aktivitas manusia yang memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal atau lokasi pemrosesan sumber daya. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia purba di wilayah tersebut telah memiliki kemampuan teknologi sederhana untuk berburu dan mengolah bahan.
Untuk memastikan keterkaitan fosil dengan aktivitas manusia, tim peneliti menganalisis bekas sayatan dan jejak pembakaran pada tulang-tulang hewan. Hasil analisis memperlihatkan adanya tanda pemotongan yang konsisten dengan penggunaan alat tajam. Selain itu, terdapat indikasi pembakaran yang menunjukkan pemanfaatan daging sebagai sumber pangan. Tulang hewan juga diduga digunakan sebagai bahan peralatan.
Dari sisi morfologi, kondisi gua digambarkan relatif landai menyerupai terasering. Mulut gua memiliki lebar sekitar lima meter dengan tinggi kurang lebih dua meter. Struktur tersebut memungkinkan akses yang cukup bagi manusia pada masa itu, terutama ketika permukaan laut masih lebih rendah dibandingkan kondisi sekarang.
Perubahan lingkungan menjadi faktor kunci yang menjelaskan mengapa gua ini kini berada di bawah laut. Pendekatan geologi dan paleogeografi menunjukkan adanya fluktuasi muka air laut akibat perubahan iklim setelah berakhirnya zaman es. Ketika suhu global meningkat, es di kutub mencair dan menyebabkan kenaikan permukaan laut secara bertahap. Proses tersebut menenggelamkan wilayah yang sebelumnya berupa daratan, termasuk Gua Song Toyapakeh.
Distribusi fauna daratan di dalam gua semakin memperkuat hipotesis bahwa kawasan tersebut dahulu merupakan bagian dari lanskap darat yang lebih luas. Penemuan ini juga berkontribusi pada pemahaman tentang jalur migrasi manusia purba di kawasan Asia Tenggara.
Peneliti menyebutkan bahwa situs ini berkaitan dengan dinamika wilayah Wallacea, yakni kawasan kepulauan yang menjadi penghubung antara daratan Asia dan Australia pada masa prasejarah. Pada periode tertentu, diduga terdapat “jembatan darat” yang menghubungkan Bali dan Lombok. Kondisi tersebut memungkinkan perpindahan manusia dan fauna tanpa harus menyeberangi laut dalam seperti saat ini.
Dengan demikian, Song Toyapakeh tidak hanya menjadi bukti hunian prasejarah, tetapi juga bagian penting dari rekonstruksi sejarah migrasi manusia di Indonesia. Situs ini menjembatani pemahaman tentang bagaimana manusia purba beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.
Di sisi lain, keberadaan gua bawah laut ini juga menghadirkan potensi baru bagi pengembangan wisata berbasis riset. Pulau Nusa Penida yang selama ini dikenal sebagai destinasi bahari kini memiliki daya tarik tambahan berupa situs arkeologi bawah air. Namun demikian, pengembangan tersebut perlu mempertimbangkan aspek konservasi agar nilai ilmiah dan historisnya tetap terjaga.
Periset Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Gendro Keling, menyatakan bahwa pengembangan berbasis penelitian dan pelestarian menjadi kunci pemanfaatan situs ini. Ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan situs dan peningkatan kesejahteraan warga sekitar.
Penemuan Gua Song Toyapakeh menegaskan bahwa wilayah Indonesia menyimpan kekayaan sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Melalui penelitian lanjutan dan pengelolaan berkelanjutan, situs ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan bagi ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat identitas sejarah kawasan Nusa Penida.

